Mengenal K.H. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus): Ulama, Budayawan, dan Tokoh Nahdlatul Ulama asal Rembang
Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, dikenal sebagai daerah yang melahirkan sejumlah tokoh agama berpengaruh di Indonesia. Salah satu figur yang paling dikenal luas hingga tingkat nasional adalah K.H. Ahmad Mustofa Bisri, atau yang lebih akrab disapa Gus Mus. Selain berperan sebagai ulama dan pengasuh pondok pesantren, ia juga dikenal sebagai penyair, penulis, pelukis, dan salah satu tokoh penting di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU).
Latar Belakang dan Riwayat Keluarga
K.H. Ahmad Mustofa Bisri lahir di Rembang, Jawa Tengah, pada 10 Agustus 1944. Ia merupakan putra dari K.H. Bisri Mustofa dan Nyai Marafah Cholil. Ayahnya, K.H. Bisri Mustofa, dikenal sebagai ulama kharismatik yang pada tahun 1941 mendirikan Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin di Desa Leteh, Kecamatan Rembang Kota, Kabupaten Rembang.
Gus Mus menikah dengan Nyai Hj. Siti Fatma, putri dari Kiai Basyuni, pada 19 September 1971. Dari pernikahan tersebut, pasangan ini dikaruniai tujuh orang anak.
Riwayat Pendidikan
Perjalanan pendidikan Gus Mus banyak ditempuh melalui jalur pesantren. Setelah menyelesaikan Sekolah Rakyat di Rembang, ia melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, di bawah asuhan K.H. Marzuki dan K.H. Mahrus Ali. Setelahnya, ia melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta, di bawah bimbingan K.H. Ali Ma’shum dan K.H. Abdul Qadir.
Selanjutnya, Gus Mus melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, mengambil bidang studi keislaman dan bahasa Arab hingga lulus pada tahun 1970. Di Mesir, ia satu angkatan dengan K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, yang kelak menjadi sahabat dekat sekaligus rekan seperjuangannya di lingkungan NU.
Kiprah sebagai Ulama dan Pengasuh Pesantren
Sepulang dari Mesir, Gus Mus aktif berkiprah di organisasi keagamaan, di antaranya sebagai pengurus PCNU Rembang pada awal 1970-an, Wakil Katib Syuriah PWNU Jawa Tengah pada 1977, hingga menjabat Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Ia juga pernah menjabat sebagai Rais ‘Aam PBNU pada periode 2014-2015.
Setelah kakaknya, K.H. Cholil Bisri, wafat, Gus Mus meneruskan kepemimpinan Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin hingga saat ini, didampingi oleh putra dari K.H. Cholil Bisri.
Sosok Budayawan dan Sastrawan
Di luar perannya sebagai ulama, Gus Mus juga dikenal luas sebagai budayawan. Ia aktif menulis puisi, esai, cerita pendek, hingga melukis kaligrafi. Karya-karyanya banyak mengangkat tema keislaman, sosial, dan kemanusiaan, serta kerap menjadi rujukan dalam diskusi keagamaan maupun kebudayaan di Indonesia. Melalui karya-karya tersebut, Gus Mus dikenal sering menyampaikan pandangan kritisnya terhadap berbagai fenomena sosial dan keagamaan yang berkembang di masyarakat.
Sebagai ulama sekaligus budayawan, K.H. Ahmad Mustofa Bisri menjadi salah satu tokoh yang memperkuat citra Rembang, Jawa Tengah, sebagai daerah yang lekat dengan tradisi keilmuan pesantren. Perpaduan antara wawasan keagamaan yang mendalam dan kepekaan budaya menjadikan sosoknya dikenal luas, tidak hanya di kalangan Nahdlatul Ulama, tetapi juga di tengah masyarakat Indonesia secara umum.









