SRAGEN – Terlihat rombongan pelajar turun dari bus dan berbaris menuju pintu masuk kompleks Museum Manusia Purba Sangiran. Mereka datang untuk melihat langsung apa yang membuat sebuah kabupaten kecil di timur laut Jawa Tengah ini dikenal hingga ke penjuru dunia. Jejak manusia purba yang telah tertanam di tanah Sukowati sejak ratusan ribu tahun silam.
Kabupaten Sragen, yang terletak sekitar 30 kilometer dari Kota Surakarta, menyandang dua julukan sekaligus, yaitu : Bumi Sukowati dan Kota Fosil. Julukan pertama merujuk pada akar sejarahnya yang menyambung ke masa Mataram Kuno, sedangkan julukan kedua lahir dari keberadaan Situs Sangiran, kawasan yang oleh UNESCO ditetapkan sebagai Warisan Dunia karena kelengkapan fosil manusia dan hewan purba yang ditemukan di sana.
Dari Sukowati ke Sragen
Nama Sukowati sudah disebut-sebut sejak abad ke-8, saat Kerajaan Mataram Kuno diperintah oleh Rakai Panangkaran. Kala itu, seorang raja bawahan bernama Rakai Walaning Pukumbayoni menyingkir ke sebuah wilayah akibat peperangan. Wilayah itulah yang kemudian dikenal sebagai Sukowati, cikal bakal Kabupaten Sragen.
Nama “Sragen” sendiri baru muncul berabad-abad kemudian, pada masa Pangeran Mangkubumi. Menurut catatan yang beredar di kalangan sejarawan lokal, nama itu berasal dari dua kata: pasrah dan legen. Legen adalah minuman hasil fermentasi sari gula kelapa yang kala itu dihidangkan oleh Tumenggung Alap-Alap kepada Pangeran Mangkubumi, yang saat itu telah mengganti namanya menjadi Pangeran Sukowati. Ucapan “pasrah legen” itu, dari mulut ke mulut kemudian berubah menjadi Sragen.
Hari Jadi yang Lahir dari Medan Perang
Pemerintah Kabupaten Sragen menetapkan 27 Mei 1746 sebagai Hari Jadi kabupaten ini, melalui Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 1987. Tanggal tersebut menandai awal perlawanan Pangeran Mangkubumi, adik Sunan Pakubuwono II, terhadap kolonial Belanda. Di Desa Pandak, Karangnongko, wilayah Sukowati bagian timur, Pangeran Mangkubumi mendirikan pemerintahan pemberontak dan mengubah namanya menjadi Pangeran Sukowati untuk memperluas basis perlawanannya.
Perang yang kemudian dikenal sebagai Perang Mangkubumen berlangsung sembilan tahun, dari 1746 hingga 1755, dan berakhir dengan penandatanganan Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755. Perjanjian itu membelah Kerajaan Mataram menjadi dua: Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Pangeran Mangkubumi sendiri kemudian dilantik sebagai Sultan Yogyakarta pertama dengan gelar Hamengkubuwono I.
Setelah perjanjian itu, wilayah Sragen berada dalam pengaruh Kasunanan Surakarta. Pada 12 Oktober 1840, Sunan Pakubuwono VII menetapkan Sragen sebagai Pos Tundan, semacam pos pengawasan lalu lintas barang dan surat. Statusnya kemudian meningkat pada 5 Juni 1847, ketika Sunan Pakubuwono VIII, dengan persetujuan Residen Surakarta, memberi Sragen wewenang kepolisian dan mengubahnya menjadi Kabupaten Gunung Pulisi. Dari sinilah cikal bakal struktur pemerintahan kabupaten yang bertahan hingga era kemerdekaan, sebelum akhirnya menjadi Pemerintah Daerah Kabupaten Sragen seperti sekarang.
Ikatan historis Sragen dengan Yogyakarta rupanya belum putus. Pada awal Juli 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Jadi ke-280 Kabupaten Sragen, Keraton Yogyakarta dan Pemerintah Kabupaten Sragen menggelar rangkaian Muhibah Budaya selama sepekan. Dalam sambutannya, Sri Sultan Hamengkubuwono X menyebut Sukowati bukan sekadar tempat persinggahan, melainkan salah satu pilar yang menopang lahirnya Kasultanan Yogyakarta. Bupati Sragen Sigit Pamungkas menyebut kegiatan itu sebagai momentum mempererat kembali hubungan historis kedua daerah yang telah terjalin sejak masa perjuangan Pangeran Mangkubumi.
Sangiran, Saksi Bisu Perjalanan Manusia
Jika perjuangan Pangeran Mangkubumi menandai babak sejarah manusia modern di Sragen, maka Situs Sangiran membawa cerita jauh lebih tua. Kawasan yang membentang di perbatasan Sragen dan Karanganyar ini telah menghasilkan ribuan fosil manusia purba dan hewan purba, menjadikannya salah satu situs evolusi manusia paling lengkap di dunia. Status Warisan Dunia UNESCO yang disandangnya membuat Museum Manusia Purba Sangiran menjadi rujukan penting bagi peneliti paleoantropologi dari berbagai negara, sekaligus destinasi wisata edukasi andalan Sragen.
Kesenian yang Bertahan di Tengah Zaman
Di luar catatan sejarah besar, denyut budaya Sragen justru paling terasa di tingkat desa. Kesenian tayub, tarian rakyat yang biasa tampil dalam hajatan dan syukuran warga, hingga kini masih hidup dan bahkan telah ditetapkan sebagai salah satu subsektor unggulan ekonomi kreatif seni pertunjukan di kabupaten ini. Wayang kulit dan berbagai tari tradisional Jawa juga masih rutin dipentaskan dalam acara-acara masyarakat.
Jejak masa lalu juga tersebar di sudut-sudut kabupaten ini. Masjid Kauman Sragen, yang berdiri sejak awal abad ke-19, menjadi saksi masuknya Islam ke tanah Sukowati. Di tepi Bengawan Solo, warga pernah menemukan Prasasti Sankhara, yang oleh sebagian sejarawan lokal diyakini sebagai bukti bahwa Sragen pernah memiliki aksara khasnya sendiri.
Dari fosil berusia ratusan ribu tahun hingga tarian yang masih dipentaskan di halaman rumah warga, Sragen menyimpan lapisan sejarah yang jarang dimiliki daerah lain seukurannya. Bagi kabupaten yang kerap luput dari sorotan wisata Jawa Tengah, warisan itulah yang menjadi modal utamanya untuk terus dikenal.

