Site icon Jatengpedia

Jejak Sunan Bonang dan Islamisasi Lewat Kesenian

Gamelan

Di Desa Bonang, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, kompleks pesarean tua masih terus didatangi peziarah. Letak desanya berada di pesisir utara Jawa Tengah, kawasan yang pada abad ke-15 hingga ke-16 merupakan jalur transit niaga maritim yang ramai. Menurut cerita turun-temurun warga setempat, dari desa inilah Raden Maulana Makdum Ibrahim yang masyhur dengan sebutan Sunan Bonang

Dalam jalur dakwahnya, ia memilih media yang sangat dekat dengan kebiasaan masyarakat pesisir saat itu yaitu gamelan dan tembang Jawa.

Menjadikan Panggung Karawitan Sebagai Media Awal

Situasi sosiologis Jawa pada masa keruntuhan Majapahit diwarnai oleh kultur Hindu-Buddha yang mengakar kuat pada seni pertunjukan. Sunan Bonang membaca kecenderungan ini bukan sebagai rintangan. Masyarakat yang belum mengenal syariat Islam tentu akan berjarak jika langsung diberikan larangan atau tata cara ritual yang asing.

Strategi yang diambilnya terbilang praktis. Ia membawa perangkat gamelan ke tempat-tempat terbuka di pinggir desa. Instrumen yang paling dominan ia mainkan adalah bonang. Instrumen kuningan berpencon (memiliki tonjolan bundar di tengahnya) yang ditaruh berjejer di atas rancakan kayu. Pola tabuhan bonang yang ritmis dan rancak sengaja dipakai untuk memancing rasa penasaran orang banyak.

Ketika warga sudah berkumpul mengerumuni arena permainan, Sunan Bonang mulai melantunkan tembang-tembang macapat gubahannya sendiri. Tembang-tembang ini disusun memakai bahasa Jawa yang akrab, memuat petuah hidup, perenungan batin, dan selipan konsep tauhid. Salah satu tembang yang tradisinya masih hidup sampai sekarang adalah Tombo Ati (Obat Hati), yang mengajarkan lima laku rohani: membaca Al-Qur’an dan memahami artinya, salat malam, bergaul dengan orang saleh, berpuasa, serta memperpanjang zikir. Cara bertahap ini membuat masyarakat tidak merasa tradisi leluhur mereka diserang atau disingkirkan secara paksa.

Kedalaman Tasawuf dalam Suluk Wujil

Dakwah Sunan Bonang tidak hanya menggunakan gamelan panggung rakyat. Dalam  pemikiran, beliau tergolong ulama sufi yang produktif menulis karya sastra mistik (suluk). Salah satu adikaryanya yang diakui dalam filologi Jawa kuno adalah Suluk Wujil.

Naskah ini mengisahkan dialog sufistik antara Sunan Bonang dengan Wujil, seorang abdi bekas pelayan istana Majapahit yang mengembara demi mencari hakikat hidup dan rahasia ketuhanan. Melalui petuah-petuahnya kepada Wujil, Sunan Bonang mengajarkan bahwa pengenalan akan Tuhan (makrifat) bermula dari pengenalan atas diri sendiri (man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu). Ia mengkritik orang yang hanya menguasai tata bahasa Arab atau menghafal teks luar agama tanpa memahami substansi kebajikan batinnya.

Lewat Suluk Wujil, terlihat bahwa tembang dan gamelan bukan sekadar instrumen hiburan, melainkan bagian dari metodologi tasawuf untuk mendidik jiwa.

Perdebatan Nama dan Jejak Lasem

Terkait asal-usul nama “Sunan Bonang”, catatan sejarah dan tradisi lisan menawarkan beberapa versi yang berbeda:

  1. Julukan dari Alat Musik: Versi populer menyebut gelar ini disematkan karena keahliannya merancang atau memodifikasi gamelan bonang.
  2. Toponimi Desa: Versi lain yang dipegang kuat oleh penutur lokal Rembang, menyebut nama itu berasal dari nama Desa Bonang di Lasem, tempat ia mendirikan padepokan dakwah (yang kini dikenal sebagai situs Padepokan Griya Ageng). Cerita juru kunci mencatat kawasan ini awalnya berupa hutan belantara bernama Alas Kemuning tempat sang wali mengasingkan diri (khalwat).
  3. Etimologi Simbolik: Ada pula tafsir filologis, misalnya tulisan R. Poedjosoebroto dalam Wayang Lambang Ajaran Islam (1975), yang membedah kata “bonang” dari bentukan kata babon (induk) dan menang (kemenangan rohani). Sementara sebagian budayawan memandangnya lebih sederhana: tiruan onomatope dari ketukan instrumennya yang berbunyi “nong-nang”.

Meskipun versi makamnya juga kerap diperdebatkan dengan Tuban, jejak Sunan Bonang di Lasem sangat riil. Di Desa Bonang, peninggalan fisik seperti sumur kuno, bekas cungkup, pasujudan di atas bukit karang, hingga kompleks masjid tua masih dirawat. Tiap tahunnya, masyarakat menggelar haul dengan membagikan sajian ketan kuning, sebuah simbol rasa syukur atas masuknya peradaban Islam di wilayah pesisir tersebut.

Tradisi Sebagai Sarana Dakwah

Sebagian besar kisah perjalanan Sunan Bonang memang datang dari babad, tembang, dan tradisi lisan, bukan arsip kolonial atau prasasti monolitik. Namun, warisan budayanya memperlihatkan satu hal penting yaitu proses islamisasi Jawa pada masanya tidak merobohkan pranata lokal, melainkan menyusup ke dalam rongga-rongga kebudayaan yang sudah ada.

Dengan mengganti fungsi gamelan dari sekadar pengiring ritual lama menjadi sarana pengingat nilai ketuhanan, Sunan Bonang berhasil mengubah kesenian rakyat menjadi bahasa dakwah yang luwes dari zaman ke zaman.

 

Exit mobile version