Site icon Jatengpedia

Candi Prambanan, Kejayaan Hindu di Jantung Jawa

Candi Prambanan yang berdiri di perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah usianya sudah lebih dari seribu tahun. Menara-menaranya menjulang tajam ke langit. Bagi banyak orang, pemandangan itu sudah cukup untuk menjelaskan mengapa Prambanan dianggap salah satu peninggalan terpenting peradaban Hindu-Jawa. Tapi di balik kemegahannya, ada cerita panjang tentang keyakinan, ketekunan para pembangunnya serta bagaimana bangunan ini tetap bertahan meski pernah nyaris hilang ditelan abu vulkanik dan waktu yang sangat lama.

Candi ini terletak di Desa Prambanan, persis di garis batas antara Kabupaten Sleman (DIY) dan Kabupaten Klaten (Jawa Tengah), sekitar 17 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta. Nama “Prambanan” sendiri sebenarnya bukan nama aslinya. Prasasti Siwagrha, yang berangka tahun 856 Masehi, mencatat bahwa bangunan suci ini semula disebut Siwagrha (“Rumah Siwa”) atau Siwalaya (“Alam Siwa”) adalah sebuah penegasan bahwa candi ini memang dipersembahkan untuk memuliakan Dewa Siwa.

Awal mula dibangun

Pembangunan Prambanan diperkirakan dimulai sekitar tahun 850 Masehi atas prakarsa Rakai Pikatan, raja dari Wangsa Sanjaya yang menganut Hindu. Sebagian sejarawan membacanya sebagai semacam jawaban terhadap dominasi Buddha yang sebelumnya kuat lewat Wangsa Syailendra, wangsa yang juga membangun Borobudur tidak jauh dari lokasi ini. Kompleks ini dipersembahkan untuk Trimurti: Brahma sang pencipta, Wisnu sang pemelihara, dan Siwa sang pelebur.

Proyek sebesar ini jelas tidak rampung dalam satu masa pemerintahan. Ketika Rakai Pikatan wafat, pembangunan diteruskan oleh raja-raja sesudahnya, termasuk Rakai Balitung, sampai akhirnya benar-benar selesai pada masa Raja Daksa sekitar tahun 915 Masehi. Aliran sungai di sekitar kompleks bahkan dialihkan lewat sodetan baru di sisi barat, supaya bekas alirannya bisa ditimbun dan dijadikan lahan tambahan untuk barisan candi perwara.

Kejayaan itu tidak bertahan selamanya. Pusat kekuasaan Mataram Kuno pindah ke Jawa Timur pada masa Mpu Sindok, raja terakhir Wangsa Sanjaya, akibat gabungan faktor politik dan bencana alam, termasuk letusan besar Gunung Merapi yang diduga terjadi sekitar tahun 1006 Masehi. Tanpa perawatan, candi ini perlahan runtuh, tertimbun abu vulkanik dan tertutup vegetasi selama ratusan tahun. Meski begitu, keberadaannya tidak lepas dari legenda turun-temurun, yaitu kisah Rara Jonggrang yang sampai sekarang lekat dengan nama candi ini.

Reruntuhan Prambanan baru “ditemukan kembali” secara resmi pada tahun 1733, ketika C.A. Lons, seorang berkebangsaan Belanda, melaporkannya ke pejabat kolonial. Namun pemugaran serius baru dimulai pada 1885 dan dipercepat pada 1918. Proses restorasi sempat terhenti total saat Jepang menduduki Indonesia pada 1941 di tengah Perang Dunia II, sebelum akhirnya dilanjutkan lagi setelah kemerdekaan hingga sekarang.

Legenda Roro Jonggrang

Nama “Candi Roro Jonggrang” yang melekat pada kompleks ini datang dari legenda rakyat yang sangat populer. Ceritanya berawal seorang kesatria bernama Bandung Bondowoso yang jatuh cinta pada Roro Jonggrang, seorang putri yang cantik jelita dan ia ingin mempersuntingnya. Roro Jonggrang enggan menerima lamaran itu, sehingga ia mengajukan syarat yang ia yakini mustahil dipenuhi. Syarat tersebut harus dipenuhi Bandung Bondowoso supaya membangun seribu candi hanya dalam satu malam.

Di luar dugaan, Bandung Bondowoso memang punya kesaktian luar biasa. Dengan bantuan pasukan gaib, ia membangun candi demi candi dengan kecepatan yang menakjubkan. Melihat pekerjaan itu hampir rampung menjelang dini hari, Roro Jonggrang panik dan menyusun siasat. Ia menyuruh para dayang membakar jerami kering supaya langit tampak kemerahan seperti fajar, sekaligus menumbuk padi dengan alu agar terdengar seperti keriuhan pagi hari. Ayam-ayam jantan pun tertipu dan mulai berkokok lebih awal. Para jin yang mengira matahari sudah terbit ketakutan dan kabur meninggalkan pekerjaan mereka.

Keesokan paginya, candi yang berhasil dibangun ternyata hanya 999, kurang satu dari jumlah yang disyaratkan, yaitu seribu candi. Menyadari dirinya ditipu, Bandung Bondowoso murka dan mengutuk Roro Jonggrang menjadi arca batu sebagai pelengkap candi yang keseribu. Arca yang dipercaya sebagai perwujudan Roro Jonggrang itu, yang sebenarnya adalah arca Dewi Durga, masih bisa dilihat berdiri di salah satu bilik Candi Siwa, di sisi utara.

Tentu saja ini murni cerita rakyat. Bukti arkeologis dan catatan prasasti menunjukkan pembangunan Prambanan berlangsung bertahun-tahun dan melibatkan beberapa generasi raja, jauh dari kesan “dibangun semalam” yang diwariskan lewat legenda tersebut. Yang membuat Prambanan begitu memukau adalah skala dan detail arsitekturnya mengikuti pola mandala, yaitu denah simbolis khas candi Hindu yang menggambarkan struktur alam semesta menurut kosmologi Hindu. Bentuknya menjulang menyerupai Gunung Mahameru, tempat bersemayamnya para dewa.

Kompleks ini terbagi menjadi tiga halaman berundak yang masing-masing dipisahkan oleh pagar. Halaman pertama, yang letaknya paling sakral dan tertinggi, memuat 16 candi yang sudah dipugar, yaitu:

Halaman kedua memuat tidak kurang dari 224 candi perwara yang tersusun rapi dalam deretan konsentris mengelilingi halaman utama, angka yang menunjukkan betapa besar ambisi pembangunan kompleks ini pada masanya. Sayangnya sebagian besar candi perwara kini hanya menyisakan fondasi atau tumpukan batu yang belum bisa direkonstruksi sepenuhnya karena banyak komponen aslinya sudah hilang atau rusak. Sementara halaman ketiga, yang menjadi bagian terluar, kini hanya menyisakan struktur gapura dan sebagian pagar di sisi selatan.

Daya tarik paling istimewa dari Prambanan mungkin justru ada pada relief-relief naratif yang menghiasi dinding lorong candi utama. Relief ini memvisualisasikan kisah Ramayana secara berurutan di Candi Siwa dan Candi Brahma, serta kisah Krishnayana di Candi Wisnu, dipahat dengan detail halus dan terlihat hidup. Rangkaian relief Ramayana di Prambanan bahkan disebut para peneliti sebagai salah satu karya seni pahat naratif Hindu-Buddha terbaik yang pernah ditemukan, setara dengan relief Karmawibhangga di Borobudur.

Pengakuan dari Dunia

Pada Tahun 1991, lembaga UNESCO menetapkan Candi Prambanan sebagai Situs Warisan Dunia sebagai pengakuan atas nilainya yang luar biasa sebagai contoh terbaik arsitektur candi Hindu klasik di Asia Tenggara. Status ini semakin memperkuat posisi Prambanan sebagai salah satu destinasi wisata budaya paling penting di Indonesia, dan setiap tahun jutaan pengunjung dari dalam maupun luar negeri datang ke sini.

Prambanan di masa kini tidak berhenti sebagai objek wisata sejarah semata. Di Panggung Terbuka Ramayana yang ada di kompleks ini, digelar pertunjukan Sendratari Ramayana, sebuah pagelaran tari kolosal yang mengisahkan epos Ramayana dengan latar candi yang disinari lampu di malam hari. Pertunjukan ini sudah lama menjadi salah satu pengalaman budaya yang paling banyak dicari wisatawan saat berkunjung ke Yogyakarta.

Candi Prambanan adalah jendela untuk melihat kecanggihan peradaban Jawa kuno, keindahan seni pahat klasik, dan kekayaan spiritual yang pernah tumbuh di tanah jawa. Berdiri di antara menara-menaranya yang menjulang, pengunjung masa kini masih bisa merasakan ketika iman dan seni menyatu dalam wujud batu yang tetap berdiri sampai hari ini.

Exit mobile version