Site icon Jatengpedia

Makna Tumpeng Yang Mulai Dilupakan

tumpeng jawa

Di setiap hajatan, khitanan atau syukuran di tanah Jawa, ada satu tradisi hidangan gundukan nasi kuning berbentuk kerucut dan dikelilingi aneka lauk yang tertata rapi di atas tampah bambu yang sering disebut tumpeng. Bagi kebanyakan orang, tumpeng mungkin hanya dilihat sebagai menu perayaan. Namun di balik bentuknya yang khas itu, tersimpan simbol yang disusun dengan cermat oleh leluhur Jawa. sebuah “kitab” tak tertulis tentang bagaimana seharusnya manusia hidup, bersikap dan berdoa.

Nasi Berbentuk Gunung

Nama “tumpeng” sendiri konon berasal dari akronim ungkapan Jawa, yen metu kudu mempeng — jika hendak keluar atau memulai sesuatu, lakukanlah dengan sungguh-sungguh. Sementara arti bentuk kerucutnya menurut banyak pemerhati budaya meyakini bentuk itu adalah representasi Gunung Mahameru, gunung suci dalam kosmologi Hindu yang dipercaya sebagai poros alam semesta. Jejak kepercayaan pra-Islam ini masih bertahan hingga sekarang, diiringi dengan doa-doa yang dipanjatkan dalam bahasa Jawa maupun Arab saat tumpeng dipotong.

Pemotongan tumpeng pun tak sembarangan. Irisan pertama selalu diambil dari puncak, lalu diserahkan kepada orang yang paling dihormati dalam acara tersebut, entah itu sesepuh, tokoh masyarakat, atau yang punya hajat. Ritual kecil ini menyimpan pesan besar, bahwa berkah dan kebaikan harus dimulai dari titik tertinggi, lalu mengalir ke bawah untuk dibagikan kepada semua yang hadir.

Tujuh Lauk dan Tujuh Permohonan

Yang membuat tumpeng istimewa bukan hanya nasinya, melainkan susunan lauk di sekelilingnya. Idealnya, ada tujuh macam lauk yang diseduakan dan bukan angka sembarangan. Dalam bahasa Jawa, tujuh disebut pitu, yang diyakini sebagai kependekan dari pitulungan, alias pertolongan. Menyajikan tumpeng, dengan kata lain, adalah cara masyarakat Jawa memanjatkan permohonan pertolongan kepada Tuhan sambil merayakan sesuatu.

Ada pula versi yang lebih dalam beredar di sejumlah kajian budaya, yaitu filosofi pitulungan ini disebut-sebut bergema dengan sebuah doa dalam Al-Qur’an, Surah Al-Isra ayat 80, yang diyakini dipanjatkan Nabi Muhammad SAW menjelang hijrah dari Mekah ke Madinah — doa memohon jalan keluar dan kekuatan yang membawa pertolongan. Terlepas dari benar-tidaknya kaitan historis ini, ia menggambarkan sesuatu yang khas dari Islam di tanah Jawa. Agama tidak menghapus tradisi lama, melainkan duduk berdampingan dengan tradisi atau budaya yang sudah ada. Fenomena inilah yang oleh antropolog Clifford Geertz, dalam kajiannya yang kini menjadi rujukan klasik, disebut sebagai wajah “Islam abangan”  Islam yang tumbuh berdialog erat dengan kosmologi Hindu-Buddha dan animisme yang sudah lebih dulu mengakar.

Ayam yang Bersujud

Lauk pertama yang wajib hadir adalah ayam ingkung , yaitu ayam jantan utuh yang dimasak areh santan dan disajikan dalam posisi meringkuk, seolah tengah bersimpuh. Kata “ingkung” sendiri, menurut sejumlah penelusuran etimologis, berakar dari ungkapan inggalo jungkung (segera bersujud) dan inggalo manekung (segera berzikir). Posisi ayam yang meringkuk pun sengaja meniru sikap sujud manusia di hadapan Sang Pencipta.

Pemilihan ayam jantan bukan tanpa alasan. Ayam jago dikenal punya reputasi buruk dalam pepatah Jawa: sombong, gemar berkokok seolah paling benar dan suka memotong pembicaraan orang lain. Menyantap ayam jago dalam wujud ingkung menjadi semacam ritual simbolis untuk “membunuh” watak-watak buruk tersebut dalam diri manusia yang menyantapnya.

Ikan yang Mengajarkan Ketabahan

Di sisi lain nampan, biasanya tersaji ikan lele atau ikan asin petek. Lele dipilih bukan karena rasanya semata, melainkan karena kebiasaan hidupnya. Ikan ini bisa hidup di dasar air keruh dan berlumpur, tempat yang oleh kebanyakan makhluk lain dihindari. Dari sanalah lahir makna ketabahan, kemampuan bertahan dan tetap punya arah meski berada di tengah situasi yang keruh dan sulit.

Menariknya, dalam praktik masa kini, banyak penyaji tumpeng mulai meninggalkan lele dan menggantinya dengan jenis ikan lain yang dianggap lebih menarik secara visual. Pergeseran kecil ini menunjukkan bagaimana pertimbangan estetika perlahan mulai bersanding, bahkan kadang menggeser dengan makna simbolis yang dulu melekat kuat pada setiap elemen tumpeng.

Sementara itu, ikan petek atau teri yang hidup bergerombol di permukaan air membawa pesan kerukunan. Ikan-ikan kecil ini tidak pernah berenang sendirian, sebuah pengingat bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan.

Telur, Sayur dan Pelajaran Hidup yang Tersembunyi

Telur rebus yang disajikan utuh dengan kulitnya menyimpan pesan kesetaraan di mata Tuhan, semua manusia diciptakan dengan kesempurnaan yang sama. Namun ada lapisan makna lain yang jarang diungkap yaitu proses mengupas kulit telur sebelum menyantapnya sering dimaknai sebagai metafora perencanaan. Sebelum menikmati hasil (isi telur), seseorang harus lebih dulu “mengupas” niat dan rencananya matang-matang sekaligus mengupas kedok ego yang menutupi kejernihan hati.

Lauk berikutnya, urapan atau gudangan, menjadi representasi paling menarik dari keberagaman yang menyatu. Sayuran-sayuran rebus yang dicampur parutan kelapa pedas ini bukan hanya soal rasa, tapi juga permainan bunyi bahasa Jawa yang cerdas. Kangkung disandingkan dengan kata jinangkung (terlindungi), bayam dengan ayem tentrem (damai), taoge melambangkan pertumbuhan yang tak pernah berhenti dan kacang panjang menyiratkan pandangan hidup yang jauh ke depan. Bahkan kata “urap” sendiri oleh sebagian penutur dikaitkan dengan urip yang berarti “hidup” menegaskan fungsi lauk ini sebagai simbol kemampuan menghidupi diri dan keluarga.

Hati yang Bersih, Proses yang Sabar

Sambal goreng hati mengingatkan pada pentingnya menata batin. Hati yang bersih dari iri, dengki dan dendam, akan melahirkan tindakan yang membawa manfaat, bukan kerusakan, bagi lingkungan sekitar. Sementara tempe dan tahu bacem  berbicara tentang kerendahan hati dan proses. Rasa manis gurih yang muncul dari bumbu bacem bukan didapat instan, melainkan hasil dari waktu dan kesabaran, persis seperti manisnya hidup yang diraih lewat proses pembinaan diri yang panjang.

Penutup dari ketujuh lauk, teri kacang, menjadi simbol gotong royong antar-elemen yang berbeda. Ikan kecil dari laut bertemu kacang tanah dari daratan, dua unsur berbeda yang justru menciptakan harmoni rasa saat disatukan. Sama seperti masyarakat yang terdiri dari latar belakang berbeda namun tetap bisa hidup rukun berdampingan.

Lebih dari Sekadar Menu

Tumpeng jarang hadir sendirian. Ia selalu menjadi pusat dari sebuah ritual yang disebut slametan, upacara makan bersama yang dalam kajian antropolog Koentjaraningrat berfungsi menyatukan tetangga, keluarga, bahkan arwah leluhur dalam satu ruang harmoni. Slametan menjadi wadah bagi masyarakat Jawa lintas latar keislaman — santri, priyayi, maupun abangan — untuk sama-sama larut dalam nilai spiritual yang sama, meski dengan cara penghayatan yang berbeda-beda.

Menariknya, filosofi tujuh lauk ini pun bukan aturan yang kaku. Di lingkungan Keraton Yogyakarta misalnya, tercatat lebih dari 17 jenis tumpeng dengan warna dan makna berbeda untuk keperluan berbeda. Salah satunya tumpeng kapuranto yang diwarnai biru, disajikan sebagai simbol permintaan maaf dari tuan rumah kepada tamu. Ini menunjukkan bahwa apa yang selama ini kita kenal sebagai “tumpeng standar” sesungguhnya hanyalah satu cabang dari pohon tradisi yang jauh lebih rimbun. Di tengah munculnya budaya instan, tumpeng tetap bertahan bukan karena kelezatannya semata, melainkan karena ia menyimpan cara pandang hidup yang penuh makna.

Exit mobile version