Di kampung-kampung Jawa momen kelahiran, pernikahan, hingga kematian akan menjadi tradisi acara yang selalu ada. Tetangga datang, doa dilantunkan dan nasi beserta lauknya dibagikan. Acara itu dikenal sebagai slametan atau selamatan dalam ejaan Indonesia.
Di zaman sekarang, tradisi ini masih dilestarikan dan dijaga, baik di pedesaan maupun perkotaan. Walaupun bentuk acaranya ada yang mengalami perubahan. Slametan dipandang sebagai salah satu unsur kebudayaan Jawa yang paling langgeng dibandingkan unsur lainnya.
Dalam slametan, tuan rumah mengundang tetangga, saudara dan kerabat untuk berkumpul dan berdoa bersama.
Para ahli menduga slametan pada mulanya merupakan upacara masyarakat Jawa penganut animisme. Ketika Islam masuk ke Jawa, para wali mengambil jalan pendekatan. Mereka tidak menghapus seluruh unsur upacara. Sebagian doa diganti dan disesuaikan dengan ajaran Islam.
Pemimpin doa dalam upacara mengucapkan permohonan dalam bahasa Jawa halus seperti, “Mugi-mugi arwahipun Bapak fulan dipun ampuni kalepatipun, dipun lebur dosa-dosanipun, dipun jembaraken kuburipun lan dipun paringi papan ingkang sae, inggih punika swarganipun Gusti Allah.” Artinya, semoga arwah bapak yang bersangkutan diampuni kesalahannya, dilebur dosa-dosanya, dilapangkan kuburnya dan diberi tempat terbaik, yaitu surga di sisi Allah.
Slametan diartikan sebagai wujud syukur kepada Yang Mahakuasa atas beragam karunia, mulai dari kesehatan, rezeki, hingga rasa tenteram yang menjauhkan kehidupan dari bencana.
Slametan tidak hanya digelar ketika keberuntungan datang, misalnya saat panen melimpah, lulus sekolah atau selesai membangun rumah. Ia juga diselenggarakan setelah musibah, seperti sakit berbulan-bulan, kecelakaan atau kehilangan uang dan harta.
Alasannya ada pada cara pandang orang Jawa terhadap keseimbangan. Situasi yang terlalu susah maupun terlalu senang dianggap tidak normal dan keduanya dinilai membahayakan. Slametan menjadi jalan agar segala sesuatu memperoleh keselamatan.
Melewati Berbagai Tahap Kehidupan
Dalam pandangan masyarakat Jawa manusia melewati banyak tahapan kehidupan, yaitu dalam kandungan, bayi, anak, remaja, menikah, hingga meninggal dunia. Setiap kali naik satu tahap, seseorang meninggalkan tahap sebelumnya.
Bayi yang lahir misalnya, meninggalkan alam kandungan yang telah ia kenal menuju alam dunia yang belum ia kenal. Demikian pula orang yang meninggal, yang meninggalkan alam dunia menuju alam baka.
Dalam kepercayaan Jawa, peristiwa seperti kelahiran, pernikahan dan kematian bukanlah kebetulan. Pada saat-saat itu manusia memasuki masa yang sakral. Ketika seseorang berada dalam situasi lemah. Kondisi ini diyakini dapat mengganggu keseimbangan hidup. Maka, slametan diselenggarakan agar selamat dan terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Berdasarkan rangkaian tahapan itu, tradisi slametan siklus hidup mencakup kehamilan, kelahiran, perkawinan dan kematian.
Slametan Kehamilan
Bagi ibu yang mengandung anak pertama, slametan diadakan tiga kali, yaitu pada usia kandungan lima bulan (nglimani), tujuh bulan (mitoni) dan sembilan bulan (procotan).
Nglimani. Pada usia lima bulan disiapkan lima jenis sesaji: jenang, rujak, sambel, tumpeng dan telur. Sesaji ini diantar kepada kerabat yang rumahnya jauh. Antaran itu menjadi tanda pemberitahuan bahwa perempuan yang diselamati telah hamil lima bulan, sekaligus permintaan doa agar kandungannya diberi keselamatan.
Mitoni. Pada usia tujuh bulan, digelar mitoni atau tingkeban. Upacara ini memuat ritual siraman, yaitu mandi yang disertai sesaji dua buah kelapa gading muda. Masing-masing kelapa digambari tokoh wayang Bethara Kamajaya dan Bethari Kamaratih.
Sesaji tersebut mengandung harapan. Bila kelak lahir bayi laki-laki, ia berwajah tampan seperti Bethara Kamajaya. Bila lahir perempuan, ia berwajah cantik seperti Bethari Kamaratih. Usai siraman, ibu yang mengandung diwajibkan berganti kain jarit hingga tujuh kali sampai ia merasa cocok.
Procotan. Pada usia sembilan bulan diadakan procotan. Kata ini berasal dari procot, yang berarti keluar dengan licin. Upacara ini dimaksudkan agar bayi lahir dengan mudah, cepat dan selamat atau dalam istilah Jawa disebut lahir procot. Untuk melengkapinya disajikan jenang procot, yaitu jenang sumsum tanpa juruh (gula merah cair), ditambah dawet dan plecing, yakni dawet dengan cendol dari tepung pohon aren.
Slametan Kelahiran
Bayi yang baru lahir disambut dengan slametan brokohan. Hidangannya antara lain nasi putih dan sayur kacang panjang yang dibiarkan panjang. Brokohan merupakan wujud syukur kepada Tuhan bahwa bayi yang lahir diberi keselamatan.
Berikutnya digelar puputan untuk memperingati kelahiran pada hari ke-35.
Saat bayi telah mulai belajar menapak, tiba waktunya ia “turun tanah”. Untuk menandainya diadakan upacara tedhak siten.
Slametan Perkawinan
Dalam pernikahan, disediakan sesaji bojawali. Isinya bergantung pada status kedua mempelai.
Bagi pengantin yang sama-sama masih bujang, yaitu jejaka dan perawan, disiapkan daun sirih, pisang sanggan, dan tumpeng tulung. Semuanya sarat makna. Daun sirih berarti undangan, pisang sanggan berarti menyangga bumi, dan tumpeng tulung berarti kesanggupan membangun rumah tangga bersama-sama.
Bagi calon pengantin yang pernah berumah tangga, misalnya duda dan janda, digunakan sesaji pancareksajati. Sesaji ini terdiri dari daun plasa, rumput kalanjana, daun kapa-kapa, dan alang-alang, sebagai gambaran kerukunan keluarga setelah membangun rumah tangga.
Ada pula sesaji palangsengkal yang terdiri dari jajan pasar, kolak jemuwah, sego golong, rampadan dan dhahar kembul. Sesaji ini dipakai sepanjang rangkaian acara, mulai dari lamaran, pasok tukon dan liru kalpika, hingga perhelatan lengkap dengan siraman, midadareni dan panggih.
Slametan Kematian
Pada upacara kematian, disertakan sesaji lengkap berupa tumpeng, ingkung, dan sego golong. Slametan dilaksanakan untuk memperingati hari kematian secara berjenjang: surtanah, hari ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, setahun, dua tahun, dan hari ke-1.000 atau nyewu.
Dalam kenduri di pedesaan, hidangan berkembang menjadi beragam. Sego sak lawuhe (nasi dengan lauk), sekul ulam sari (sekul ulam lembaran), sekar konyoh, ketan-kolak, apem, kerupuk ikan asin, gudangan, dan jajan pasar.
Selametan Pindah Rumah
Merupakan tradisi acara syukuran dan permohonan keselamatan, ketentraman dan perlindungan pada rumah yang baru ditempati.
Hingga saat ini acara selametan ada yang sedikit berbeda susunan acaranya dan mengalami perubahan di beberapa daerah, tetapi esensinya masih dijaga. Selain sudah menjadi tradisi, panjatan Do’a menjadi tujuan utama diadakannya acara selametan.









