Tujuh bulan adalah titik yang dinanti dalam kehamilan perempuan Jawa. Pada usia kandungan inilah keluarga menggelar mitoni atau tingkeban, slametan yang paling lengkap dari seluruh rangkaian upacara kehamilan. Hari dipilih dengan perhitungan, calon ibu dimandikan dengan air kembang, dan meja dipenuhi sesaji yang tiap bentuknya punya nama sendiri.
Mengapa Tujuh Bulan?
Nama mitoni berasal dari kata pitu yang berarti tujuh. Adapun tingkeban berasal dari kata tingkeb yang berarti tutup, sebab upacara ini dipandang sebagai penutup rangkaian slametan selama kehamilan hingga bayi lahir.
Tradisi ini sering dikaitkan dengan kisah Niken Satingkeb dan Raja Jayabaya dari Kediri. Dalam kisah itu, sang raja memerintahkan pasangan tersebut menjalani tiga laku, yaitu mandi pada Rabu (tumbah), mandi pada Sabtu (budha), dan mandi suci menggunakan air suci serta gayung batok kelapa. Gayung batok kelapa itu pula yang masih dipakai dalam siraman hingga kini.
Aturannya pun dibedakan. Untuk kehamilan pertama, rangkaian lengkap dengan siraman dijalankan. Untuk anak kedua dan seterusnya, biasanya cukup slametan dan kenduri.
Memilih Hari: Rabu atau Sabtu, Tanggal Ganjil
Mitoni tidak digelar sembarang hari. Menurut tata cara yang dicatat dalam naskah rujukan, slametan tujuh bulan jatuh pada hari Rabu atau Sabtu, pada tanggal ganjil sebelum tanggal 15. Ketentuan ini sejalan dengan sumber lain yang menyebut hari baik mitoni adalah Rabu atau Sabtu pada tanggal ganjil sebelum bulan purnama.
Hitungan hari Jawa punya kekhasan. Kajian tentang mitoni di Yogyakarta menyebut hari Rabu dimulai sejak Selasa siang hingga malam, dan Sabtu sejak Jumat siang hingga malam. Di lingkungan Keraton Yogyakarta, hari pelaksanaan biasanya Selasa atau Sabtu. Perbedaan ini menegaskan bahwa tidak ada satu pakem tunggal, melainkan kebiasaan yang diwariskan keluarga dan daerah.
Siraman: Mandi Air Kembang Setaman
Puncak upacara adalah siraman. Siraman dimaknai sebagai pembersihan diri calon ibu, lahir dan batin. Siang hari dipercaya sebagai waktu para bidadari turun dari kahyangan untuk mandi. Calon ibu dimandikan dan keramas dengan air kembang setaman, yakni air yang diberi aneka bunga. Tubuhnya digosok dengan tepung beras mancawarna tujuh macam, dicampur mangir, daun pandan wangi, dan daun kemuning yang ditumbuk halus. Air disiramkan dengan gayung dari buah kelapa.
Selama siraman, calon ibu duduk di atas tikar beralaskan dedaunan, yaitu apa-apa, keluwih, kara, dadap srep, dan ilalang. Alas kainnya tidak kalah beragam: letrek, jingga, banguntulak, sindur, sembagi, selendang lurik puluhwatu, yuyuse kandang, dan kain mori putih. Kekayaan perlengkapan ini menunjukkan bahwa bagi masyarakat Jawa, ibu hamil sedang berada pada masa yang perlu dijaga dengan segala lambang kebaikan.
Delapan Sesaji di Meja Slametan
Sesaji pada slametan tujuh bulan terdiri atas delapan jenis. Beberapa di antaranya sudah dikenal luas, seperti nasi kuluban, bubur procot, dan tumpeng robyong. Beberapa lainnya, seperti penyon, sampora, dan pring sedapur, kini jarang dibicarakan di luar lingkaran para sesepuh.
Ada sembilan nama makanan sesaji, di antaranya tumpeng pitu, jenang procot, dan jenang baro-baro. Nama tersebut itu mencerminkan harapan keselamatan bagi kehamilan yang telah mencapai usia tujuh bulan.
Tumpeng Robyong: Telur, Bawang dan Cabai di Puncak
Di antara semua sesaji, tumpeng robyong yang paling mencolok. Tumpeng ini identik dengan telur, bawang merah, dan cabai merah yang ditusuk menjadi satu kesatuan. Tumpeng robyong melambangkan kesuburan, kesejahteraan, dan keselarasan manusia dengan alam.
Tumpeng sendiri sudah dikenal sebelum Islam masuk ke Jawa. Seiring waktu, tradisi ini diadopsi dan dikaitkan dengan filosofi Islam, sebagaimana dicatat dalam skripsi tentang simbol tumpeng di Keraton Yogyakarta. Karena itu, mitoni kerap dipandang sebagai perjumpaan budaya Jawa dengan nilai religius yang hidup di masyarakat. Tidak semua keluarga menjalankan mitoni selengkap dulu. Namun tradisi ini bertahan karena fungsinya sebagai ungkapan rasa syukur, tempat keluarga berkumpul.

