Site icon Jatengpedia

Weton Rabu Wage

Masyarakat Jawa memandang hari kelahiran bukan sekadar penanda tanggal. Kombinasi hari dalam sepekan (saptawara) dan hari pasaran dalam siklus lima harian (pancawara) membentuk apa yang disebut weton. Dari weton inilah primbon, yaitu kitab tradisional berisi catatan pengetahuan dan perhitungan orang Jawa, menyusun gambaran tentang kecenderungan watak, arah mencari penghidupan, hingga kecocokan pasangan hidup. Artikel ini membahas salah satu weton yang cukup sering ditanyakan, yaitu Rabu Wage.

Mengenal Weton dan Neptu

Weton berulang setiap 35 hari, hasil perkalian tujuh hari dengan lima pasaran. Setiap hari dan setiap pasaran memiliki nilai angka yang disebut neptu. Penjumlahan keduanya menghasilkan neptu weton yang menjadi dasar berbagai perhitungan (petungan) dalam primbon.

Untuk Rabu Wage, perhitungannya sebagai berikut:

Dalam tradisi primbon, setiap hari dan pasaran diberi kedudukan simbolis. Rabu dipahami berkedudukan sebagai padaharan atau wadah, sedangkan Wage dikaitkan dengan aluamah/Lawwamah, salah satu dari empat jenis nafsu dalam pandangan Jawa yang dilambangkan dengan warna hitam. Perpaduan ini sering dibaca sebagai gambaran pribadi yang mampu menampung dan mengendalikan dorongan dalam dirinya.

Tokoh pewayangan yang menjadi lambang weton ini adalah Nakula dan Sadewa, si kembar bungsu dari lima Pandawa dalam kisah Mahabharata yang di Jawa hidup melalui pertunjukan wayang purwa. Nakula dikenal tampan, halus budi, dan piawai merawat kuda. Sadewa digambarkan bijaksana, tenang, dan luas pengetahuannya. Sifat rendah hati, setia, serta cermat dalam bekerja dari kedua tokoh ini menjadi cermin bagi watak yang dikaitkan dengan weton Rabu Wage.

Gambaran Watak

Bagi laki-laki

Primbon menggambarkan laki-laki berweton Rabu Wage sebagai pribadi yang luwes dalam bergaul dan mudah tergerak membantu orang yang sedang kesulitan. Hatinya lembut, amarahnya jarang tampak keluar dan ia mudah memaafkan. Ia dipercaya pandai menjaga rahasia, tidak banyak bicara, serta cenderung ramah kepada siapa pun.

Dalam bekerja ia dianggap tekun, teliti, dan bersungguh-sungguh. Kemampuan memimpin disebut-sebut muncul, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat. Ia tidak mudah terpengaruh, berhemat dalam mengelola harta, meskipun gemar bepergian. Sisi lain yang dicatat primbon adalah kecenderungan mudah cemburu, tetapi tetap terbuka terhadap nasihat.

Bagi perempuan

Perempuan berweton Rabu Wage digambarkan cerdas, pendiam, ramah dan mampu menyimpan rahasia. Ia pandai mencari nafkah dan menata simpanan, tetapi royal dalam memberi sehingga pengeluarannya kadang agak longgar. Ia juga dipandang berani menyampaikan pendapat dan bersikap tegas kepada pasangan.

Sebagian uraian tradisional menambahkan bahwa pada usia muda ia mudah menaruh perhatian besar pada urusan asmara, dan tutur katanya yang halus gampang menarik simpati. Setelah berumah tangga, ia digambarkan sebagai pekerja keras yang berhati-hati membelanjakan uang. Ia lebih suka menabung ketika memperoleh penghasilan dan tidak mengeluarkannya tanpa keperluan yang jelas.

Arah Rezeki dan Bidang Pekerjaan

Dalam primbon, setiap weton memiliki arah mata angin yang dianggap membawa kemudahan rezeki apabila seseorang merantau atau membuka usaha ke arah tersebut. Bagi laki-laki Rabu Wage arah yang dianjurkan adalah barat. Ia dinilai cekatan mencari kebutuhan hidup, tidak boros dan hemat. Bila berjodoh dengan pasangan yang sesuai, rezekinya dipercaya bertambah seiring hadirnya anak-anak.

Bidang yang dinilai cocok adalah wiraswasta, dan bertani pun dapat ditekuni selama disertai kesabaran dan ketekunan. Primbon mengingatkan bahwa godaan dalam mencari rezeki bisa datang dari lingkungan terdekat, termasuk saudara dan anak. Karena itu, doa dan sikap memohon keberkahan kepada Tuhan ditekankan sebagai penyeimbang usaha lahiriah.

Untuk perempuan, bidang yang dianggap selaras adalah pendidik (guru) dan pedagang. Bertani kurang dianjurkan, kecuali bila pasangannya memang ahli di bidang pertanian. Kebahagiaan dan kelancaran rezekinya dipercaya meningkat setelah hadirnya putra buah hati.

Petungan Jodoh

Dalam tradisi petungan jodoh, neptu kedua calon pasangan dijumlahkan, lalu hasilnya dibandingkan dengan kategori yang tercatat dalam primbon. Naskah yang menjadi rujukan artikel ini mencatat bahwa pasangan dengan neptu 8, 10, 12, dan 14 dipandang sesuai bagi weton Rabu Wage, baik untuk laki-laki maupun perempuan.

Hasil penjumlahannya adalah sebagai berikut:

Primbon menafsirkan keempat kombinasi ini sebagai pertanda rumah tangga yang tenteram dan sejahtera. Kehidupan di dalam rumah (bale wisma) digambarkan jarang kekurangan. Walaupun begitu, primbon juga mengingatkan pentingnya menentukan arah dan letak rumah yang tepat sebagai bagian dari ikhtiar membangun keluarga.

Primbon sebagai Kearifan Lokal

Para pengkaji budaya Jawa memandang petungan weton sebagai bagian dari cara orang Jawa mencari keselarasan (harmoni) antara manusia, alam dan waktu. Hasil perhitungan lebih sering berfungsi sebagai bahan pertimbangan dan pengingat untuk berhati-hati, bukan vonis atas nasib seseorang. Dari sudut pandang ilmiah, tidak ada bukti bahwa hari kelahiran menentukan watak atau keberuntungan, sehingga keputusan penting seperti pernikahan dan pekerjaan tetap sebaiknya didasarkan pada pertimbangan nyata, musyawarah keluarga dan nilai-nilai yang diyakini masing-masing.

Exit mobile version