Site icon Jatengpedia

Kerajaan Nusantara Dari Kutai hingga Majapahit

Kerajaan Nusantara

Sebelum ada nama Indonesiakepulauan ini sudah lebih dulu dihuni kerajaan-kerajaan. Sebagian meninggalkan bangunan megah yang masih bisa dikunjungi sampai hari ini. Sebagian lain hanya menyisakan batu bertulis, catatan yang tidak lengkap atau sekedar cerita yang abadi hingga saat ini.

Di Propinsi Jawa Tengah punya tempat penting dalam rangkaian cerita tersebut. Di tanah inilah Ratu Sima memerintah dengan hukum yang tegas, Borobudur dan Prambanan didirikan, dan dari sini pula pusat kekuasaan Jawa bergeser ke timur. Berikut tiga belas kerajaan yang membentuk wajah sejarah Nusantara, disusun kurang lebih menurut waktu kemunculannya.

1. Kerajaan Kutai

Bukti tertulis tertua tentang kerajaan di Nusantara datang dari Kalimantan Timur, tepatnya kawasan Muara Kaman, Kutai Kartanegara. Di sana ditemukan tujuh tiang batu yang disebut yupa. Aksaranya Pallawa, bahasanya Sanskerta, dan para ahli menaksir usianya sekitar abad ke-4 Masehi.

Dari yupa itulah kita mengenal tiga nama penguasa: Kudungga, putranya Aswawarman dan cucunya Mulawarman. Nama Kudungga yang terdengar lokal, sementara dua penerusnya bernama Sanskerta, sering dibaca sebagai tanda masuknya pengaruh India secara bertahap. Mulawarman paling banyak disebut. Prasasti mencatat ia menyedekahkan ribuan ekor sapi kepada para brahmana di tempat suci bernama Waprakeswara. Para sejarawan umumnya menilai Kutai bercorak Hindu Siwa.

Kutai sering disebut kerajaan Hindu tertua di Indonesia. Informasi tentang kehidupan sehari-harinya masih sangat terbatas, dan hampir semua yang kita tahu bersumber dari yupa tadi.

2. Kerajaan Tarumanagara

Bergeser ke Jawa bagian barat, kita bertemu Tarumanagara pada abad ke-5. Rajanya yang paling terkenal adalah Purnawarman. Ia meninggalkan sejumlah prasasti di sekitar Bogor, Jakarta, dan Banten, antara lain Ciaruteun, Kebon Kopi, Jambu, Pasir Awi, Muara Cianten dan Tugu.

Prasasti Ciaruteun menampilkan sepasang telapak kaki yang disamakan dengan jejak Dewa Wisnu, cara raja menegaskan wibawanya. Prasasti Tugu lebih membumi. Isinya mencatat penggalian saluran air yang dikerjakan atas perintah raja, yang oleh banyak ahli dibaca sebagai upaya mengendalikan banjir sekaligus mengairi sawah.

Peziarah Tiongkok bernama Fa-Hien yang singgah di Jawa pada awal abad ke-5 menyebut sebuah negeri bernama To-lo-mo, yang diduga merujuk pada Taruma. Menjelang abad ke-7, kerajaan ini meredup dan wilayahnya kelak dikenal sebagai bagian dari Kerajaan Sunda.

3. Kerajaan Kalingga (Ho-ling)

Inilah kerajaan yang paling dekat dengan Jawa Tengah. Berita tentangnya terutama datang dari catatan Tiongkok pada masa Dinasti Tang, yang menyebutnya Ho-ling. Letak pusatnya masih diperdebatkan. Sebagian peneliti mengarahkan telunjuk ke pesisir utara Jawa Tengah, di sekitar Jepara, Pekalongan, dan Batang, sementara pendapat lain menempatkannya di tempat yang berbeda.

Tokoh yang paling diingat adalah Ratu Sima, yang memerintah sekitar akhir abad ke-7. Kisah kejujuran rakyat di bawah kekuasaannya sangat terkenal. Konon, sekantong emas yang diletakkan di tengah jalan dibiarkan begitu saja bertahun-tahun, tak seorang pun berani mengambil. Suatu hari putra mahkota tak sengaja menyentuhnya dengan kaki. Sang ratu menjatuhkan hukuman mati, lalu setelah dimohonkan para pejabat, hukuman diringankan menjadi pemotongan jari kaki yang menyentuh kantong itu. Kisah ini lebih tepat dibaca sebagai gambaran tentang ketegasan hukum ketimbang laporan peristiwa yang bisa dibuktikan satu per satu.

Peninggalan yang sering dikaitkan dengan masa ini antara lain Prasasti Tuk Mas di lereng Merbabu dan Prasasti Sojomerto di Batang. Nama Ratu Sima juga hidup dalam ingatan masyarakat setempat sampai sekarang.

4. Kerajaan Kanjuruhan

Di kawasan Malang, Jawa Timur, berdiri Kanjuruhan pada abad ke-8. Sumber utamanya adalah Prasasti Dinoyo bertarikh 760 Masehi, ditulis dalam bahasa Sanskerta. Isinya menyebut Raja Gajayana, putra Dewa Simha, yang memerintahkan pembuatan arca Resi Agastya dari batu hitam sebagai pengganti arca kayu cendana milik leluhurnya.

Penyebutan Agastya memperlihatkan bahwa corak keagamaannya Hindu Siwa. Candi Badut di Malang dianggap berkaitan dengan masa ini. Meski tidak sebesar kerajaan lain dalam daftar ini, Kanjuruhan penting karena menunjukkan bahwa Jawa Timur sudah memiliki pusat kekuasaan yang mapan jauh sebelum Singasari dan Majapahit.

5. Kerajaan Sriwijaya

Pada abad ke-7, dari Palembang, Sumatra Selatan, muncul kekuatan maritim yang kelak menguasai jalur dagang Selat Malaka. Prasasti Kedukan Bukit (682 M) menyebut Dapunta Hyang Sri Jayanasa memimpin perjalanan dengan puluhan ribu pasukan dan mendirikan wanua, permukiman yang dianggap titik awal kerajaan. Prasasti lain seperti Talang Tuo, Kota Kapur, dan Telaga Batu melengkapi gambarannya, termasuk kutukan bagi siapa saja yang berkhianat kepada raja.

Pendeta Tiongkok I-Tsing singgah pada akhir abad ke-7 dan menggambarkan Sriwijaya sebagai pusat pembelajaran agama Buddha, tempat para biksu mendalami ajaran sebelum berangkat ke India. Kekuasaan Sriwijaya bertumpu pada armada dan kendali atas pelabuhan, bukan pada wilayah daratan yang luas.

Kejayaannya surut setelah serangan Kerajaan Chola dari India selatan pada awal abad ke-11, lalu perlahan digantikan kekuatan lain di Sumatra dan Jawa.

6. Kerajaan Melayu

Sebelum Sriwijaya menguasai Sumatra, kawasan Jambi sudah memiliki kerajaan bernama Melayu. I-Tsing mencatatnya dengan nama Mo-lo-yu. Menurut sebagian besar ahli, Melayu kemudian ditaklukkan Sriwijaya pada akhir abad ke-7.

Pusat Melayu belakangan bergeser ke hulu Batanghari, yakni Dharmasraya. Di sinilah kerajaan ini berhubungan dengan Jawa. Pada 1275, Kertanegara dari Singasari mengirim Ekspedisi Pamalayu, dan pada 1286 sebuah arca Amoghapasa dikirim sebagai tanda persahabatan atau pengaruh. Dari lingkungan ini pula muncul tokoh Adityawarman, yang kelak mendirikan pusat kekuasaan di pedalaman Minangkabau pada abad ke-14.

Kawasan percandian Muaro Jambi, salah satu situs terluas di Asia Tenggara, sering dikaitkan dengan sejarah panjang daerah ini, walaupun hubungan pastinya dengan Melayu masih dikaji.

7. Kerajaan Medang (Mataram Kuno)

Kalau ada satu kerajaan yang menjadi kebanggaan Jawa Tengah, itulah Medang atau yang lazim disebut Mataram Kuno. Prasasti Canggal bertarikh 732 M menyebut Sanjaya sebagai raja yang mendirikan lingga di perbukitan Gunung Wukir, Magelang. Dari sinilah wangsa Sanjaya dikenal.

Pada kurun yang sama, wangsa Syailendra yang beragama Buddha juga berkuasa. Keduanya berdampingan dan kadang bersaing, lalu bersatu lewat pernikahan Rakai Pikatan dengan Pramodhawardhani. Peninggalannya tak tertandingi: Borobudur dari masa Syailendra pada abad ke-8 hingga ke-9, Candi Mendut, Candi Kalasan, dan Prambanan yang dibangun pada abad ke-9 oleh penguasa wangsa Sanjaya. Balaputradewa, yang kalah dalam perebutan kekuasaan, kemudian pergi ke Sumatra dan memimpin Sriwijaya.

Sekitar abad ke-10, Mpu Sindok memindahkan pusat kerajaan ke Jawa Timur. Alasannya masih dibahas, mulai dari letusan gunung berapi hingga ancaman dari luar. Di timur, Medang dilanjutkan sampai peristiwa serangan atas Dharmawangsa pada 1016.

8. Kerajaan Kahuripan

Serangan pada 1016 itu hampir menamatkan segalanya. Airlangga, menantu Dharmawangsa, lolos dan bertahan di pegunungan, lalu perlahan menyatukan kembali wilayah yang tercerai-berai. Pada 1019 ia dinobatkan sebagai raja.

Kahuripan di bawah Airlangga dikenang sebagai masa pemulihan. Ia membangun bendungan, mengatur perdagangan di pelabuhan Hujung Galuh, dan mendukung sastra. Pada masa inilah Mpu Kanwa menggubah kakawin Arjunawiwaha. Prasasti Pucangan (1041) menceritakan masa-masa sulit dan kebangkitannya.

Menjelang akhir hidup, sekitar 1042, Airlangga membagi kerajaannya menjadi dua, Janggala dan Panjalu, agar tidak diperebutkan oleh kedua putranya. Pembagian ini dilakukan dengan bantuan Mpu Bharada. Tradisi mencatat bahwa putrinya sendiri menolak takhta dan memilih menjadi pertapa. Airlangga wafat sekitar 1049.

9. Kerajaan Kadiri

Dari dua bagian warisan Airlangga, Panjalu atau Kadiri-lah yang tumbuh dominan, dengan pusat di Daha. Puncaknya terjadi pada masa Jayabaya (sekitar 1135 hingga 1157). Prasasti Hantang menyebut kemenangannya atas Janggala dengan semboyan Panjalu Jayati, Panjalu menang.

Kadiri dikenal sebagai masa suburnya sastra. Kakawin Bharatayuddha disusun oleh Mpu Sedah dan diselesaikan Mpu Panuluh. Nama Jayabaya sampai kini juga melekat pada ramalan-ramalan yang hidup dalam tradisi Jawa, meski penulisan ramalan itu sebagai kitab berasal dari masa yang jauh lebih belakangan.

Kadiri runtuh pada 1222. Raja terakhirnya, Kertajaya, berselisih dengan para brahmana dan akhirnya dikalahkan Ken Arok dalam pertempuran di Ganter.

10. Kerajaan Singasari

Ken Arok, tokoh yang kisahnya dituturkan dalam Pararaton, mendirikan Singasari dengan pusat di Tumapel. Cerita tentang asal-usulnya penuh unsur legenda, mulai dari pencurian hingga kutukan keris Mpu Gandring. Pararaton ditulis jauh sesudah peristiwanya, sehingga para sejarawan membacanya dengan hati-hati.

Puncak kekuasaan Singasari dicapai Kertanegara (1268 hingga 1292). Ia memperluas pengaruh ke luar Jawa lewat Ekspedisi Pamalayu, dan menolak tunduk kepada utusan Kubilai Khan dari Tiongkok. Sikap itu terkenal sebagai keberanian sekaligus kenekatan.

Saat pasukan Singasari sedang berada di luar, Jayakatwang dari Kediri menyerang dan membunuh Kertanegara pada 1292. Candi Singosari, Candi Jago, dan Candi Kidal menjadi sisa-sisa kejayaan itu. Dari keruntuhan Singasari pula lahir sosok yang akan membangun Majapahit.

11. Kerajaan Bali

Bali memiliki sejarah kerajaan sendiri yang berlangsung berabad-abad. Prasasti Blanjong di Sanur, bertarikh 914 M, menyebut Sri Kesari Warmadewa, tokoh yang dianggap pendiri wangsa Warmadewa. Pada akhir abad ke-10, Raja Udayana menikah dengan Mahendradatta dari Jawa Timur. Dari pasangan inilah lahir Airlangga, yang kelak berkuasa di Jawa.

Hubungan Bali dan Jawa terus berlanjut hingga pada 1343 Majapahit di bawah Gajah Mada menaklukkan Bali. Seiring waktu, budaya Majapahit membaur dengan tradisi setempat. Setelah Majapahit surut, Kerajaan Gelgel tampil sebagai pusat kekuasaan di Bali dan mencapai masa gemilang pada abad ke-16 di bawah Dalem Waturenggong.

Banyak ahli menyebut bahwa Bali hari ini ikut menyimpan warisan Jawa-Hindu yang di Jawa sendiri banyak berubah.

12. Kerajaan Pajajaran

Di Jawa bagian barat, Kerajaan Sunda mencapai masa puncaknya dengan pusat di Pakuan Pajajaran, kawasan Bogor sekarang. Tokoh yang paling dikenal adalah Sri Baduga Maharaja (1482 hingga 1521), yang dalam tradisi populer dikenal sebagai Prabu Siliwangi. Ia disebut berhasil menyatukan kembali dua wilayah yang sebelumnya terbagi, yaitu Sunda dan Galuh.

Prasasti Batutulis di Bogor, yang dibuat oleh penerusnya pada 1533, memperingati sang raja. Naskah Sunda kuno juga banyak menyimpan nasihat hidup dan tata nilai masyarakat pada masa itu.

Pada abad ke-16, kekuatan Islam dari Banten dan Cirebon makin menguat. Pakuan akhirnya jatuh pada 1579 dan Pajajaran pun berakhir.

13. Kerajaan Majapahit

Raden Wijaya, menantu Kertanegara, mendirikan Majapahit pada 1293. Ia memanfaatkan kedatangan pasukan Mongol yang hendak menghukum Singasari, lalu berbalik mengusir mereka. Pusat kerajaan berada di sekitar Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur.

Masa keemasan terjadi pada pemerintahan Hayam Wuruk (1350 hingga 1389) dengan Gajah Mada sebagai patih. Sumpah Palapa yang diucapkan Gajah Mada menjadi simbol cita-cita menyatukan Nusantara. Kakawin Negarakertagama karya Mpu Prapanca (1365) mendaftar wilayah-wilayah yang berhubungan dengan Majapahit, sementara Mpu Tantular menulis Sutasoma yang memuat ungkapan Bhinneka Tunggal Ika.

Peristiwa Bubat pada 1357 menjadi noda dalam hubungan dengan Sunda. Sesudah Hayam Wuruk wafat, perebutan takhta dalam Perang Paregreg melemahkan kerajaan secara perlahan. Majapahit meredup pada akhir abad ke-15 hingga awal abad ke-16.

Di Jawa Tengah, penerus pentingnya adalah Kesultanan Demak, yang didirikan Raden Patah, tokoh yang dalam tradisi dikenal sebagai keturunan raja Majapahit. Dari sinilah babak baru sejarah Jawa dimulai. Kita melihat satu pola yang berulang: kekuasaan tumbuh dari jalur air dan perdagangan, agama dan kesenian berjalan bersama kekuasaan, dan setiap pusat yang runtuh selalu menyisakan warisan bagi penerusnya. Jawa Tengah, dengan Kalingga dan Medang, berada tepat di jantung rangkaian itu. Candi-candi yang berdiri di Magelang dan Klaten bukan sekadar objek wisata, melainkan arsip batu yang masih bisa kita kunjungi.

Exit mobile version