Mungkin sebagian besar anak sekarang tidak tahu nama permainan yang sekarang jarang terlihat saat ini. Ada masa ketika halaman rumah dan gang sempit serta pekarangan sekarang kosong di kampung-kampung di Jawa Tengah. Dahulu halaman rumah adalah arena bermain paling sibuk dan ramai sepanjang sore. Tidak ada layar sentuh atau HP yang ada cuma bambu, biji-bijian, tanah liat dan imajinasi anak-anak yang sepertinya tidak pernah habis.
Sekarang bisa kita tanyakan kepada anak SD di kota-kota besar Jawa Tengah, tahu apa itu othok-othok? Kebanyakan akan menggeleng. Bukan salah mereka, akan tetapi zaman memang berubah dan mainan-mainan itu perlahan tergeser tanpa banyak orang sempat menyadarinya sampai suatu hari kita sadar sudah tidak pernah melihatnya lagi.
inilah beberapa mainan tradisional khas Jawa Tengah yang dulu jadi bagian dari masa kecil hampir semua orang, tapi kini nyaris punah dari peredaran.
1. Othok-othok
Kalau ada satu suara yang bisa langsung membangkitkan nostalgia orang-orang yang besar di tahun 80-90an, mungkin itu suara “thok-thok-thok” dari othok-othok. Mainan ini berupa boneka kecil dari bambu yang ditempatkan di atas roda dan dijajakan penjual keliling menggunakan sepeda. Saat sepeda bergerak, mainan itu ikut bergoyang dan menghasilkan bunyi khas yang justru jadi daya tarik utamanya bukan mainan yang dibeli anak-anak, tapi suaranya yang memanggil mereka keluar rumah.
Penjual othok-othok sekarang nyaris tidak pernah terlihat lagi di jalanan kota-kota Jawa Tengah. Sebagian karena bahan baku bambu yang makin sulit diolah secara ekonomis, sebagian lagi karena generasi pengrajinnya tidak punya penerus.
2. Egrang
Egrang dulu bukan cuma mainan, tapi semacam ujian kedewasaan di kalangan anak laki-laki kampung. Siapa yang bisa berjalan paling jauh atau paling cepat dengan dua batang bambu panjang berpijakan itu, otomatis naik status di antara teman-temannya.
Ironisnya, egrang justru salah satu dari sedikit mainan tradisional yang masih “hidup”—tapi hanya setahun sekali, saat lomba 17 Agustusan dan itupun sekarang sudah mulai tidak terlihat. Di luar itu, hampir tidak ada anak yang memainkannya untuk bersenang-senang murni seperti dulu.
3. Gangsingan
Gasing kayu yang diputar dengan tali sederhana ini dulu bisa memicu pertandingan serius di antara anak-anak kampung: siapa gasingnya paling lama berputar atau siapa yang gasingnya sanggup “membunuh” gasing lawan saat saling beradu di tanah.
Kini gasing modern versi plastik dengan lampu LED memang masih beredar, dijual di pasar malam atau toko mainan. Tapi gasing kayu tradisional yang dibuat dengan tangan, dengan detail ukiran khas daerah tertentu di Jawa Tengah sudah jarang ditemukan bahkan di pasar tradisional sekalipun.
4. Bekel
Kalau gasing identik dengan anak laki-laki, bekel dulu jadi permainan wajib anak perempuan. Modalnya cuma bola karet kecil dan beberapa biji bekel dari logam atau plastik. Permainannya sederhana tapi butuh koordinasi tangan-mata yang lumayan menantang—melempar bola, mengambil biji bekel, menangkap bola lagi, semua dalam hitungan detik.
Sekarang, coba cari bekel di toko mainan modern. Kemungkinan besar tidak ada. Permainan ini praktis hanya bertahan di ingatan generasi yang pernah memainkannya.
5. Dakon atau Congklak
Dakon atau Congklak mungkin salah satu mainan tradisional yang paling banyak dikenang. Papan kayu panjang dengan lubang-lubang kecil, diisi biji-bijian atau kerang, dimainkan dua orang bergantian mengambil dan membagikan biji ke lubang lain. Permainan ini melatih strategi dan kesabaran, dua hal yang jarang dilatih permainan digital zaman sekarang.
Ironisnya, congklak sekarang lebih sering ditemukan sebagai barang pajangan atau suvenir budaya ketimbang benar-benar dimainkan anak-anak.
6. Engklek
Digambar dengan kapur atau ranting di atas tanah, kotak-kotak engklek dulu memenuhi halaman sekolah dan gang-gang kampung. Anak-anak melompat dengan satu kaki sambil mendorong gacuk, biasanya pecahan genteng atau batu pipih dari kotak ke kotak.
Permainan ini sebenarnya melatih keseimbangan dan kekuatan kaki, semacam olahraga terselubung yang dikemas jadi permainan menyenangkan. Sayangnya, halaman-halaman tanah yang dulu jadi arena bermain kini banyak berubah jadi lahan parkir atau bangunan.
Perubahan gaya hidup ke arah digital jelas jadi faktor besar, tapi bukan satu-satunya. Ruang bermain terbuka yang makin menyempit di kota-kota Jawa Tengah, hilangnya regenerasi pengrajin mainan tradisional, sampai pergeseran budaya “bermain sendiri” lewat HP atau ponsel dibanding bermain berkelompok di luar rumah, semuanya berkontribusi pelan-pelan menggeser mainan-mainan ini dari kehidupan sehari-hari.









