Di lereng utara Gunung Muria, Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, peziarah mulai berdatangan sejak dini hari. Sebagian memilih naik ojek menyusuri tanjakan, sebagian lain menapaki anak tangga satu per satu hingga tiba di kompleks masjid dan makam yang berdiri di ketinggian. Di tempat inilah Raden Umar Said, yang lebih dikenal sebagai Sunan Muria, dimakamkan. Lima abad setelah masa hidupnya, namanya masih menarik orang dari berbagai daerah.
Sunan Muria kerap disebut sebagai salah satu anggota termuda Walisongo. Ia tidak berdakwah dari pusat kota atau istana, melainkan dari pedalaman pegunungan, di tengah petani, nelayan, pedagang, dan rakyat kecil. Cara itulah yang membuat sosoknya terasa dekat dengan masyarakat Jawa Tengah hingga sekarang.
Asal-usul dan Nama
Menurut riwayat, Raden Umar Said adalah putra Sunan Kalijaga dari pernikahannya dengan Dewi Saroh, putri Syekh Maulana Ishaq. Dari pasangan itu lahir tiga anak: Raden Umar Said, Dewi Rukayah, dan Dewi Sofiah. Beberapa sumber menyebut nama kecilnya Raden Prawoto. Sebutan “Muria” sendiri datang dari tempat ia menetap dan berdakwah, yakni kawasan Gunung Muria.
Perlu dicatat, silsilah para wali memang tidak seragam di setiap sumber. Ada penulis yang menyebut Sunan Muria putra Raden Usman Haji (Sunan Ngudung), dan ada pula tafsir lain yang menyinggung kemungkinan latar Tionghoa dalam silsilah wali. Penulis yang menelusuri berbagai pendapat itu umumnya tetap condong pada versi bahwa ia putra Sunan Kalijaga. Karena itu, Jatengpedia memakai versi tersebut sebagai rujukan utama, sambil mengakui bahwa pembahasannya masih terbuka bagi para sejarawan. Sunan Muria diperkirakan wafat pada abad ke-16.
Memilih hidup di gunung
Padepokan Sunan Muria berada di kawasan Colo, sekitar 18 kilometer di utara pusat Kota Kudus. Lokasi setinggi itu bukan tanpa alasan. Pada masa itu, Gunung Muria diperkirakan masih berdiri di sebuah pulau yang terpisah dari daratan Jawa oleh selat, sehingga lereng-lerengnya dikelilingi jalur pelayaran dan perdagangan. Di sekitar situlah hidup para nelayan, pelaut, pedagang, dan petani yang menjadi sasaran utama dakwahnya.
Naik-turun gunung hampir setiap hari tentu membutuhkan stamina besar. Tradisi tutur lantas mengaitkannya dengan kesaktian: seorang guru yang tangguh secara jasmani dan batin. Terlepas dari bumbu legendanya, gambaran itu menunjukkan satu hal yang nyata, yaitu dakwahnya dijalankan dengan cara mendatangi masyarakat, bukan menunggu mereka datang.
Cara berdakwah yang halus, dekat dan lewat budaya
Sunan Muria meneruskan pendekatan ayahnya. Metodenya sering diibaratkan seperti menangkap ikan tanpa membuat air menjadi keruh: pelan, tidak memaksa, dan tidak mengguncang tatanan yang sudah ada. Ada beberapa jalur yang ia tempuh.
Seni pertunjukan. Ia dikenal piawai mendalang dan memanfaatkan gamelan serta wayang sebagai ruang menyampaikan nilai-nilai Islam. Lakon-lakon yang dikaitkan dengannya antara lain Dewa Ruci, Jamus Kalimasada, Begawan Ciptaning, dan Semar Ambarang Jantur. Dewa Ruci, misalnya, bercerita tentang Bima yang menyelam ke samudra untuk mencari makna terdalam dirinya, sebuah kisah yang mudah dipahami penonton sekaligus sarat renungan.
Tembang macapat. Tradisi menisbatkan kepadanya dua tembang, yaitu Sinom dan Kinanthi. Keduanya mudah dilantunkan dan sering dipakai untuk menyampaikan nasihat hidup. Kinanthi, misalnya, lazim dimaknai sebagai tembang tentang kasih sayang dan tuntunan orang tua kepada anak.
Tradisi kenduri. Ia tidak menghapus kebiasaan masyarakat membuat bancakan atau selamatan, melainkan mengisinya dengan makna baru. Sajian yang semula ditujukan untuk kekuatan gaib diarahkan menjadi kenduri, yaitu berdoa bersama dan berbagi makanan dengan tetangga. Warga setempat masih mengenang salah satu ajarannya, “pagar mangkok”, yang bisa dipahami sebagai pesan bahwa hubungan baik antartetangga adalah pagar keselamatan paling kokoh.
Dalam sebagian uraian, Sunan Muria disebut sebagai satu-satunya wali yang tetap memakai gamelan dan wayang. Pernyataan ini perlu diluruskan. Sunan Kalijaga dan beberapa wali lain juga memakai kesenian itu. Yang lebih tepat dikatakan ialah bahwa Sunan Muria termasuk wali yang paling setia merawat jalur dakwah budaya tersebut.
Tradisi lisan di sekitar Muria juga menyimpan kisah tentang Kyai Mashudi, seorang bekas perampok yang bertobat setelah bertemu Sunan Muria. Kisah ini dipahami warga sebagai gambaran dakwah yang merangkul, bukan menghukum.
Kisah Pernikahan dengan Dewi Roroyono
Salah satu riwayat Sunan Muria adalah kisah pernikahannya dengan Dewi Roroyono. Kisah ini hidup dalam tradisi tutur dan bukan catatan sejarah yang bisa diverifikasi dokumen, sehingga sebaiknya dibaca sebagai cerita.
Dewi Roroyono adalah putri Sunan Ngerang, ulama berilmu tinggi di Juwana, Pati. Sunan Muria dan Sunan Kudus disebut pernah berguru kepadanya. Pada suatu hari, Sunan Ngerang menggelar syukuran atas usia putrinya yang genap dua puluh tahun. Para murid diundang, di antaranya Sunan Muria, Sunan Kudus, Adipati Pathak Warak, serta dua murid bernama Kapa dan Gentiri.
Di tengah acara, Pathak Warak bersikap tidak pantas kepada sang putri. Dewi Roroyono membalas dengan menumpahkan minuman ke pakaian sang adipati, dan Pathak Warak pun menanggung malu di depan para tamu. Dendam membuatnya nekat. Malam harinya ia membawa lari Roroyono ke Mandalika, wilayah Keling di Jepara.
Sunan Ngerang lantas berikrar: siapa pun yang berhasil membawa pulang putrinya akan dinikahkan dengannya. Hanya Sunan Muria yang berani menyatakan kesanggupan, mengingat reputasi Pathak Warak yang ditakuti. Dalam perjalanan, ia bertemu Kapa dan Gentiri, dua adik seperguruan yang menawarkan diri menggantikannya. Keduanya meminta bantuan Wiku Lodhang Datuk dari Pulau Seprapat, seorang tokoh sakti, dan berhasil memulangkan sang putri ke Ngerang.
Tak lama kemudian, Sunan Muria bertemu Pathak Warak di jalan dan mengalahkannya. Mengetahui bahwa Kapa dan Gentiri berkata jujur tentang perannya, Sunan Ngerang akhirnya menikahkan Roroyono dengan Sunan Muria. Kapa dan Gentiri diberi hadiah tanah di Desa Buntar.
Cerita belum selesai. Menurut tuturan, kedua murid itu tak mampu melupakan sang putri. Gentiri mendatangi Gunung Muria untuk merebutnya, tetapi dihadang murid-murid Sunan Muria dan tewas dalam pertarungan. Kapa kemudian menunggu saat Sunan Muria sedang berada di Demak, menculik Roroyono, lalu membawanya ke Pulau Seprapat. Di sana, gurunya sendiri, Wiku Lodhang Datuk, menolak membelanya. Ketika Sunan Muria tiba, serangan pamungkas Kapa disebut berbalik menghantam dirinya, dan ia tewas. Sang wiku mengurus jenazah muridnya dengan layak dan menyesali ilmu yang ia wariskan telah dipakai untuk kejahatan.
Beberapa pesan bisa dipetik dari legenda ini:
- Pengendalian diri. Semua kekacauan bermula dari nafsu yang tidak dikekang, entah pada Pathak Warak maupun pada Kapa dan Gentiri.
- Tanggung jawab seorang guru. Penyesalan Wiku Lodhang Datuk mengingatkan bahwa ilmu harus dibimbing akhlak.
- Persahabatan lintas keyakinan. Sunan Muria digambarkan tetap bersahabat dan berterima kasih kepada sang wiku yang berbeda agama. Sikap ini sejalan dengan watak dakwah para wali yang mengedepankan akhlak, bukan adu argumen soal perbedaan.
Beberapa sumber menempatkan peristiwa penculikan di Mandalika, Keling, yang secara geografis berada di Jepara. Penyebutan Kediri pada beberapa versi cerita tampaknya merupakan kekeliruan karena kemiripan nama Keling dengan wilayah di Jawa Timur.
Keluarga dan keturunan
Selain Dewi Roroyono, sejumlah babad menyebut Sunan Muria juga menikah dengan Dewi Sujinah, putri Sunan Ngudung yang merupakan ayah Sunan Kudus. Hubungan pernikahan ini menautkan Sunan Muria dengan dua keluarga ulama besar di pesisir utara Jawa. Di kompleks makamnya, terdapat pula makam putranya, Panembahan Pengulu Jogodipo, dan putrinya, Raden Ayu Nasiki.
Ziarah dan Tradisi Buka Luwur
Kini makam Sunan Muria menjadi salah satu tujuan wisata religi terbesar di Jawa Tengah. Menurut pengurus yayasan, tata letaknya berundak: masjid berada paling atas, makam Sunan Muria di belakangnya, lalu di bawahnya makam putra-putrinya, para sahabat, dan keturunan. Sebuah tuturan setempat menyebut bahwa Sunan Muria menemukan Colo setelah mengikuti seekor kerbau.
Setiap bulan Muharam atau Sura, masyarakat menggelar Buka Luwur, yakni penggantian kain penutup makam yang diiringi doa dan makan bersama. Tradisi serupa berlangsung di makam Sunan Kudus, sehingga Buka Luwur menjadi salah satu penanda kuat budaya religius masyarakat Kudus. Di sekitar makam, warga hidup dari berjualan di kios, jasa ojek, dan penginapan, yang menunjukkan bahwa ziarah turut menopang ekonomi desa.
Bagi peziarah yang hendak berkunjung, anak tangga menuju kompleks makam cukup menanjak, sementara ojek tersedia dari pangkalan di Desa Colo. Pengunjung lanjut usia atau yang kurang fit sebaiknya memilih moda yang sesuai dengan kondisi fisiknya.
Sunan Muria tidak meninggalkan istana atau benteng. Warisannya berupa cara pandang: bahwa agama bisa hadir lewat tembang, lakon, dan meja kenduri tanpa memutus akar budaya setempat. Di lereng Muria, cara itu masih terasa dalam tradisi berbagi makanan, doa bersama, dan penghormatan kepada leluhur. Barangkali itulah sebabnya, di tengah zaman yang berubah cepat, peziarah masih mau menapaki tangga demi tangga menuju tempat sang wali beristirahat.
Catatan redaksi
Sebagian isi tulisan ini bersumber dari tradisi lisan, babad, dan cerita rakyat yang tidak selalu didukung bukti tertulis. Angka ketinggian dan jumlah anak tangga menuju makam berbeda-beda di tiap sumber, sehingga tidak dicantumkan. Pembaca diharapkan membedakan antara data historis, tradisi, dan legenda.









