Di tepi hulu Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, para peneliti telah menemukan tujuh tiang batu bertulis. Tulisan tersebut menjadi salah satu catatan tertua yang pernah ditemukan di Nusantara dan membuka tabir tentang sebuah kerajaan Kutai yang berdiri lebih dari lima belas abad silam.
Tujuh Tiang Batu dari Muara Kaman
Tiang-tiang batu itu disebut yupa. Fungsi aslinya bukan sebagai papan prasasti, melainkan tambatan hewan kurban dalam upacara keagamaan. Belakangan tiang tersebut dipahat dengan aksara Pallawa dalam bahasa Sanskerta, sehingga sekaligus menjadi monumen peringatan. Aksara dan bahasa ini berasal dari India, dan penggunaannya di jantung Borneo menunjukkan bahwa jaringan budaya Samudra Hindia sudah menjangkau wilayah ini sejak awal.
Yupa ditemukan di sekitar Muara Kaman, wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara, pada abad ke-19. Dari paleografi atau bentuk hurufnya, para ahli memperkirakan prasasti dibuat sekitar abad ke-4 hingga ke-5 Masehi. Karena itu Kutai lazim disebut kerajaan bercorak Hindu tertua di Nusantara yang bukti tertulisnya masih bisa dibaca.
Tiga Raja yang Namanya Tercatat
Yupa memberi tahu kita tiga nama penguasa dalam satu garis keluarga.
- Kudungga disebut sebagai tokoh awal. Namanya tidak berbau Sanskerta, dan banyak sejarawan menilai ini tanda bahwa ia adalah pemimpin lokal yang belum atau baru mulai bersentuhan dengan budaya India.
- Aswawarman, putra Kudungga, sudah memakai nama berakhiran warman ala India. Ia dipandang sebagai pendiri dinasti, atau yang oleh prasasti disebut sebagai pembuka garis keturunan raja.
- Mulawarman, putra Aswawarman, tampil sebagai raja paling termasyhur dan menandai puncak kejayaan Kutai.
Perubahan nama dari Kudungga ke Aswawarman sering dibaca sebagai contoh nyata proses penyerapan budaya. Pemimpin setempat tidak digantikan oleh pendatang, tetapi justru mengadopsi gelar, bahasa, dan ritual India untuk menegaskan wibawanya.
Salah satu yupa mengabarkan bahwa Mulawarman memberikan sedekah 20.000 ekor sapi kepada para Brahmana di sebuah tanah suci bernama Waprakeswara. Para Brahmana inilah yang kemudian mendirikan tugu sebagai tanda terima kasih atas kebaikan sang raja. Nama Waprakeswara umumnya dikaitkan dengan pemujaan Siwa.
Angka sebesar itu mengundang pertanyaan. Sebagian arkeolog meragukan jumlah harfiahnya, sebab kebutuhan tenaga, penggembala, dan logistik untuk mengumpulkan ribuan ternak terlalu berat bagi kerajaan sezaman. Pandangan lain menganggap angka tersebut sebagai lambang kemurahan hati raja. Prasasti juga menyinggung pemberian emas dan upacara besar, yang memperlihatkan betapa pentingnya hubungan raja dengan para pemuka agama.
Banyak orang mengira Kutai yang tertua dan Kutai Kartanegara adalah kerajaan yang sama. Faktanya, sejarah mencatat dua entitas berbeda.
Kutai Martadipura (sering pula ditulis Martapura) adalah kerajaan Hindu kuno di Muara Kaman, yang dikaitkan dengan dinasti Mulawarman. Sementara Kutai Kartanegara berdiri sekitar tahun 1300 dengan pusat awal di Kutai Lama, di bawah raja pertamanya, Aji Batara Agung Dewa Sakti.
Menariknya, tidak satu pun dari tujuh yupa menyebut kata “Kutai” sebagai nama kerajaan. Nama itu dipakai kemudian oleh para peneliti karena prasasti ditemukan di wilayah Kutai. Nama asli kerajaan pada masanya belum diketahui dengan pasti.
Di berbagai buku pelajaran dan situs sejarah beredar daftar 21 raja Kutai Martadipura. Daftar ini umumnya bersumber dari tradisi silsilah yang ditulis jauh setelah masa kerajaan. Hanya tiga nama pertama yang benar-benar diperkuat prasasti, sedangkan sisanya sulit diverifikasi. Pembaca sebaiknya memandangnya sebagai tradisi sejarah, bukan data yang sudah final. Berdasarkan tradisi tersebut, urutannya sebagai berikut:
- Kudungga (dalam sebagian daftar bergelar anumerta Dewawarman)
- Aswawarman
- Mulawarman
- Marawijaya Warman
- Gajayana Warman
- Tungga Warman
- Jayanaga Warman
- Nalasinga Warman
- Nala Parana Tungga
- Gadingga Warman Dewa
- Indra Warman Dewa
- Sangga Warman Dewa
- Candrawarman
- Sri Langka Dewa
- Guna Parana Dewa
- Wijaya Warman
- Sri Aji Dewa
- Mulia Putera
- Nala Pandita
- Indra Paruta Dewa
- Dharma Setia
Akhir Martadipura dan Lahirnya Kesultanan
Kerajaan Hindu ini berakhir pada abad ke-17. Sekitar tahun 1635, Kutai Kartanegara di bawah Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa menyerang Martadipura yang dipimpin Dharma Setia. Martadipura takluk, lalu kedua wilayah disatukan dengan nama Kutai Kartanegara ing Martadipura.
Kutai Kartanegara sendiri sudah memeluk Islam sejak abad ke-16, ketika rajanya, Aji Mahkota, dan putranya menerima ajaran tersebut. Dari sinilah wajah Kutai berubah dari kerajaan Hindu menjadi kesultanan Islam yang bertahan hingga masa modern.
Sejarah Kutai kuno sesungguhnya masih menyimpan banyak celah. Bagaimana tepatnya Hindu tiba di Borneo? Teori lama menyebut peran para Brahmana yang diundang atau datang sendiri, sementara teori lain menyoroti peran pedagang dan pelaut. Seberapa luas wilayah kekuasaan Mulawarman juga belum terang, sebab prasasti hanya menyebut pusat ritual dan tidak memetakan batas wilayah. Klaim bahwa Kutai menguasai hampir seluruh Kalimantan perlu dipahami sebagai gambaran umum, bukan fakta yang terbukti.
Yupa kini menjadi rujukan awal masa sejarah Indonesia, yaitu ketika tulisan mulai dipakai untuk mencatat peristiwa. Di Museum Mulawarman, Tenggarong, warisan Kutai terus dikenalkan kepada generasi sekarang. Dari Kalimantan, tradisi tulis dan keagamaan Hindu-Buddha kemudian bersambung di Pulau Jawa melalui Tarumanagara di barat dan Kalingga serta Medang di Jawa Tengah. Kutai mengingatkan bahwa sejarah peradaban Nusantara berawal dari banyak tempat, dan salah satunya di tepi sebuah sungai besar di Borneo.









