Klepu – Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) Posko 14 UIN Walisongo Semarang membantu pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Pasar Sunrise, Dusun Kemasan, Desa Klepu, dalam pembuatan dan penyerahan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) bagi pelaku usaha yang belum memiliki fasilitas pembayaran digital. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Minggu, 2 Agustus 2026, dan menjadi salah satu program kerja Divisi Ekonomi Kreatif KKN Posko 14.
Program ini dilaksanakan sebagai bentuk kontribusi mahasiswa dalam mendukung digitalisasi UMKM di lingkungan Desa Klepu. Melalui QRIS, pelaku usaha dapat menyediakan alternatif pembayaran yang lebih praktis bagi pelanggan tanpa harus bergantung pada transaksi tunai.
Kegiatan pembuatan QRIS diawali dengan pendataan pelaku UMKM di Pasar Sunrise yang belum memiliki QRIS. Mahasiswa KKN Posko 14 kemudian membantu proses pendaftaran hingga QRIS dapat digunakan oleh pelaku usaha. Setelah proses pembuatan selesai, QRIS diserahkan secara langsung kepada pelaku UMKM di Pasar Sunrise Klepu pada Minggu (2/8/2026).
Tujuan utama kegiatan ini adalah membantu meningkatkan kemudahan dan efisiensi transaksi bagi pelaku UMKM sekaligus mendorong mereka untuk mulai beradaptasi dengan perkembangan sistem pembayaran digital. Kehadiran QRIS diharapkan dapat memberikan pilihan pembayaran yang lebih beragam kepada konsumen, terutama bagi pembeli yang terbiasa menggunakan transaksi non-tunai.
Selain memberikan kemudahan dalam bertransaksi, penggunaan QRIS juga diharapkan dapat membantu pelaku UMKM dalam mengelola pembayaran secara lebih praktis dan mendukung perkembangan usaha di tengah meningkatnya penggunaan teknologi digital.
Salah satu pelaku UMKM penerima QRIS, Bu Ratna, pemilik usaha keripik di Pasar Sunrise, menyambut baik program yang dilaksanakan mahasiswa KKN Posko 14 tersebut.
“Saya merasa terbantu dengan adanya pembuatan QRIS ini. Sekarang pembeli yang tidak membawa uang tunai tetap bisa melakukan pembayaran. Semoga dengan adanya QRIS ini usaha saya semakin mudah dan berkembang,” ujar Bu Ratna.
Kesan positif juga disampaikan oleh Bu Uswatun, pemilik usaha Soto Batok. Menurutnya, keberadaan QRIS dapat memberikan kemudahan bagi dirinya maupun pelanggan dalam melakukan transaksi.
“Saya senang dan berterima kasih karena dibantu membuatkan QRIS. Ini sangat memudahkan ketika ada pembeli yang ingin membayar secara non-tunai. Semoga ke depannya semakin banyak UMKM di Pasar Sunrise yang bisa menggunakan QRIS,” ungkap Bu Uswatun.
Bagi KKN Posko 14 UIN Walisongo Semarang, program tersebut tidak hanya menjadi bentuk pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga menjadi upaya untuk memperkenalkan pentingnya transformasi digital bagi keberlangsungan UMKM. Mahasiswa berharap penggunaan QRIS dapat dimanfaatkan secara optimal oleh para pelaku usaha dan memberikan dampak positif terhadap aktivitas ekonomi di Pasar Sunrise.
Melalui program kerja Divisi Ekonomi Kreatif ini, KKN Posko 14 UIN Walisongo Semarang turut mendorong terciptanya ekosistem UMKM yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi, sehingga pelaku usaha di Desa Klepu dapat semakin siap menghadapi perubahan perilaku konsumen dan perkembangan ekonomi digital.









